HEADLINEPOLITIK

Peluang dan Tantangan Jelang Pilkada KSB 2020, Pasca Pemilu 2019

Menarik untuk dicermati Peluang dan tantangan jelang Pilkada KSB 2020 pasca pemilu 2019, betapa tidak perbincangan soal pilkada sudah mulai ramai menjadi bahan diskusi diruang-ruang publik khususnya bagi kelompok yang saat ini gencar menyuarakan dan menginginkan pergantian bupati dengan hastag #2020gantibupatiksb, dan sebaliknya kelompok yang mendukung petahana yang menginginkan melanjutkan kepemimpinan Bupati H. W Musyafirin di Sumbawa Barat.

Pleno Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilu 2019 Tingkat Kabupaten telah digelar oleh KPUD setempat, perolehan kursi di DPRD KSB untuk masing-masing Partai Politik sudah bisa dipastikan, begitupun dengan figur personal yang bakal menduduki kursi panas DPRD Sumbawa Barat periode 2019-2024.

Dari 25 alokasi Kursi di DPRD KSB, dipastikan PDI-Perjuangan mendominasi dengan perolehan 5 kursi, disusul PKS 3 Kursi, Gerindra 2 kursi, PAN 2 kursi, PPP 2 kursi, Demokrat 2 kursi, PBB 2 Kursi, NasDem 2 kursi, PKPI 2 kursi, PKB 2 kursi, dan Golkar 1 Kursi. Persebaran perolehan kursi masing-masing partai akan menjadi cerminan untuk melihat sejauh mana kemungkinan dan peluang partai politik dalam mengusung pasangan calon pada kontestasi Pilkada 2020 di Kabupaten Sumbawa Barat.

Dengan melihat peta persebaran perolehan kursi tersebut, dimungkinkan untuk lahirnya maksimal 4 pasangan calon diluar calon independen. PDIP dengan raihan 5 kursi atau sekitar 30% kursi di DPRD, hampir dipastikan akan memuluskan kembali jalan bagi calon petahana meski tanpa koalisi dengan partai lainnya. Sementara dilain pihak partai lainnya masih harus membangun koalisi untuk mendapatkan tiket pemenuhan syarat mengusung pasangan calon. Budaya politik yang sangat cair dan dinamis dikalangan partai politik akan sangat menentukan berapa banyak calon yang dilahirkan kemudian.

Dominasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di kursi legislative DPRD KSB tidak serta merta menjadi jaminan kemenangan bagi petahana, pengalaman diberbagai pilkada membuktikan sulit untuk menemukan benang merah perolehan kursi yang besar dilegislatif dan atau dukungan partai koalisi yang besar akan menjadi jaminan bagi calon memenangi kontestasi pilkada. Kemenganan akan sangat ditentukan oleh figure yang diusung dan strategi marketing politik yang dijalankan. Untuk itu partai politik sebagai pemegang hak dalam mengusung pasangan calon tentu harus membuat pertimbangan yang lebih obyektif dan rasional, tidak boleh lagi didasari pragmatisme politik yang lebih mengarah kepada politik transaksional, tidak boleh hanya sekedar menguji mesin partai atau sekedar menjadi tim hore. Partai harus jeli memilih calon yang didukungnya terutama factor figuritas dan dukungan pemilih.

Beberapa figure potensial saat ini mulai digadang-gadang sebagai partnert sparing bagi petahana. Sebut saja misalnya H. Andy Azisi Amin SE, MSc , M. Nasir ST Politisi PAN yang saat ini masih menjabat sebagai ketua DPRD KSB, Drs H. M Nur Yasin (Ust Nun) pesaing petahana di pilkada KSB 2015 dan beberapa nama lainnya seperti Mustakim Fatawari LM Ketua DPC Partai Demokrat KSB, dan mewakili tokoh muda ada nama Aheruddin Sidik politisi PKPI.

Diantara sekian banyak figure tersebut, salah satu nama yang paling anyar adalah Drs H M Nur Yasin ( Ust Nun) yang juga merupakan Ketua Komite Pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat Jilid 1 . Pengalamannya diberbagai organisasi social kemasyarakatan, serta pribadi yang dikenal religius adalah modal social yang menjadikan figure ini banyak mendapatkan dukungan dari berbagai lapisan masyarakat. Dialah salah satu penantang yang saat ini diyakini akan mampu mengimbangi dominasi petahana dalam kontestasi pilkada KSB 2020.

Kontestasi Pilkada adalah arena pertarungan yang membutuhkan strategi dan perencanaan pemenangan yang matang, tidak hanya sekedar politik uang dan tebar sembako, tetapi bagaimana memenangkan hati pemilih. Saat ini sebagian besar rakyat sudah banyak tahu dan semakin kritis serta tak lagi tertarik hanya dengan sekedar politik uang. Terlebih terhadap calon petahana, kinerja dan pemenuhan janji-janji politik sebelumnya akan menjadi pertimbangan mendasar bagi rakyat dalam menentukan pilihan. Meski juga harus diakui bahwa seorang calon petahana menguasai jaringan birokrasi yang akan digunakan untuk kepentingan politiknya dan mereka juga biasanya memiliki kepercayaan diri yang luar biasa dibandingkan calon pendatang baru. Tapi jangan lupa, masih segar diingatan kita Pilkada DKI Jakarta adalah contoh menarik tentang tumbangnya seorang petahana secara telak ditengah dukungan birokrasi dan finansial yang begitu besar.

Kunci mengalahkan petahana biasanya terletak pada kelemahan kepemimpinan di periode sebelumnya. Terlebih di Sumbawa Barat, kelemahan tersebut begitu sangat vulgar dan kasat mata dilihat oleh masyarakat, kebijakan pengelolaan birokrasi dengan banyaknya gonta-ganti pejabat yang cenderung didasarkan like and dislike, import pejabat yang kemudian memunculkan ketidakpuasan bagi SDM local, pelayanan masyarakat yang belum maksimal, dan berbagai kebijakan yang dinilai cenderung merugikan masyarakat.

Beberapa catatan yang harusnya menjadi bahan evuasi petahana selama 3,5 tahun ini memimpin.

Pertama memburuknya kinerja anggaran. Hampir setiap tahun media mencatat terjadi devisit atau over estimasi anggaran sehingga realisasi anggaran tidak mencapai target. Akibatnya kinerja realisasi anggaran selalu molor atau bertumpu pada kuartal akhir tahun.

Ini berimbas terhadap ketidak stabilkan ekonomi dan perdagangan barang dan jasa di daerah. Pasalnya, nyaris 100 persen di luar sektor tanbang ekonomi, KSB di gerakkan dengan tumpuan APBD semata. Rendahnya daya serap anggaran ini memicu krisis keuangan dan melambatnya ekonomi. Ini bisa dilihat dari arus cas atau cash flow bank konvensional atau bank resmi pemerintah. Arus kredit perdagangan dan usaha serta arus tabungan sengat rendah.

Selanjutnya, buruknya kinerja anggaran juga di picu rendahnya potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) baik dari sektor perdagangan, pariwisata, pertanian. Hanya sektor tambang di Batu Hijau yang menjadi efek domino penggerak ekonomi dari luar belanja pemerintah.

Nyaris Tidak terlihat optimalisasi PAD. Pariwisata target PAD kecil bahkan nyaris tak ada. Pertanian restribusi produk pertanian dan peternakan keluar daerah rendah karena perdagangan produk pertanian keluar daerah minim sekali.

Retribusi pasar rendah, sebab pasar sepi kegiatan distribusi terbatas. Pajak parkir tidak digarap optimal. Hanya sektor pajak bumi dan bangunan yang stabil sebab potensinya sudah ada. Lain lain, pendapatan daerah bukan pajak atau bagi hasil dari pajak kendaraan bermotor yang cukup menyumbang siginifikan serta PPH21 pekerja sektor formal seperti tambang dan lain lain.

Alokasi anggaran pemerintah sejauh ini berpusat kepada pembelanjaan infrastruktur. Dari berbagai laporan APBD, pembiayaan infrastruktur sangat tinggi. kesemuanya ini akan menjadi isu strategis yang akan menggerus kepercayaan rakyat terhadap petahana.

Masih ada sisa waktu 1 tahun bagi petahana mengoreksi berbagai kebijakan untuk mengembalikan kepercayaan public. Sun tzu, seorang filsuf, jenderal perang dan ahli strategi mengatakan “kenali diri sendiri, kenali lawan, maka kemenangan sudah pasti ada ditangan. Kenali medan pertempuran, kenali iklim, maka kemenangan akan sempurna”. Pekerjaan rumah yang besar bagi petahana saat ini adalah memperbaiki citra pemerintahan yang ada.

Bagi calon penantang, pilkada tak ubahnya menjual produk baru, meski kualitasnya baik tanpa didukung oleh promosi yang bagus dia tidak akan dikenal. Produk berkualitas pasti akan selalu unggul, tetapi tanpa pemasaran yang baik ia memerlukan waktu yang lama dan biasanya cenderung sudah terlambat, diperlukan suatu organisasi pemenangan yang mampu menggerakkan dan memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada. Kepiawaian dalam membuat strategi melalui marketing politik dan komunikasi politik yang dilakukan secara bertahap, berkelanjutan dan terorganisir dengan baik akan menjadi penentu kemenangan. Mengutip Harmen Batu Bara; “Bagi para perencana, persiapan adalah tantangan, gagal mempersiapkan dengan baik sama saja merencanakan kegagalan itu sendiri”.

Kita tunggu konstalasi politik di Sumbawa Barat selanjutnya.

Oleh: Dhevan Apriansyah, Pimpinan Redaksi Realitaspost.com



0Shares